Bahagia Tanpa Alasan

by | Dec 24, 2021 | Pojok

Views: 0

Otak manusia penuh dengan daya kemampuan tipu muslihat yang memperdaya dan bahkan menipu diri sendiri. Alasan-alasan begitu mudahnya dibuat dengan logika yang dibangun oleh diri sendiri untuk membenarkan asumsi dan persepsi diri agar tidak merasa bersalah atau lainnya. Ketika harus berhadapan dengan yang benar dan kebenaran pun akhirnya ditolak, dengan alasan-alasan lainnya, yang justru membuat diri sendiri semakin tidak bahagia.

“Ada aksi maka ada reaksi” adalah hukum fisika yang tidak selalu pasti benar bisa menjadi alasan untuk pembenaran diri. Begitu juga soal “ada sebab maka ada akibat”, yang tentunya sangat mudah dijadikan alasan-alasan untuk membuat persepsi dan asumsi logis. Karena ingin kaya, maka korupsi, apakah perlu dibenarkan sehingga para koruptor sanggup tertawa dan santai seolah tidak bersalah?!

Tingkat perceraian semakin tinggi, dan alasan ekonomi menjadi salah satu faktor yang menjadi penyebab. Ini sangat menarik dicari tahu apa alasan sebelumnya untuk menikah?! Yang mencoba mempertahankan pernikahan meski tahu sudah kacau balau, dengan alasan anak dan lain-lain pun semestinya berani bertanya dengan jujur pada diri sendiri, mengapa menikah sebelumnya?! Semestinya, tidak perlu ada alasan-alasan untuk menikah selain karena cinta. Alasan-alasan lain justru hanya akan menjerumuskan, dan pada akhirnya membuat tidak bahagia. Tidak ada cinta, tidak ada kasih sayang, mana mungkin ada ketulusan?!

Untuk belajar dan memiliki wawasan luas saja tidak mudah. Lagi-lagi karena ada banyak alasan untuk tidak belajar. Capeklah, malaslah, tidak ada uanglah, dan lain sebagainya, menjadi alasan klasik yang pada akhirnya membuat diri semakin bodoh, walaupun sudah merasa pintar dan paling benar sendiri. Belajar hanya membutuhkan kerendahan hati, ketekunan, dan kesabaran. Belajar adalah salah satu cara rasa syukur dan sujud kepada Yang Maha Kuasa. Alasan-alasan yang dibuat untuk tidak belajar hanyalah bukti kesombongan yang merusak diri sendiri dan banyak orang, bahkan merusak anak dan keluarga sendiri.

Setiap kali ada alasan yang dibuat, setiap saat itu juga ada rasa bahagia yang hilang, diakui tak diakui. Memang sangat mudah membuat alasan-alasan, dan menjadi sangat mudah membuat diri tidak bahagia. Bila sudah demikian, bagaimana mampu membuat orang lain bahagia? Bagaimana pula bisa menjadi merdeka?! Toh pada akhirnya diri menjadi terkurung oleh logika-logika pembenaran dengan semakin banyak alasan-alasan, menipu diri sendiri, dan semakin sulit untuk mampu membebaskan diri.

Andai saja memiliki hati yang berani jujur untuk melawan segala pembenaran-pembenaran, asumsi dan persepsi di logika yang dibuat oleh diri sendiri, maka tidak perlu banyak alasan dalam menjalani hidup ini. Tidak perlu ada kekhawatiran berlebih, tidak perlu ada dusta dan kemunafikan yang terjadi. Semua manusia ingin bahagia, dan bahagia itu bisa diraih cukup dengan berhenti banyak alasan.

Bandung, 21 Desember 2021

Mariska Lubis

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This