Apologize to Nature

Oct 17, 2021 | Essai

Views: 0

Aku masih ingat saat dulu, sewaktu aku masih kecil aku sering berenang dan bermain di sungai, saat itu permukaan sungai nampak terlihat bening bagai kristal yang terpantulkan cahaya matahari. Di hari yang sangatlah terik itu, aku dan teman-temanku mulai mengambil aba-aba untuk berlari kemudian kami pun masuk ke dalam sungai bagai bola meriam yang dilepaskan.

Sambil berenang kami bisa melihat berbagai macam ikan dan bebatuan berwarna warni yang berada di dasar sungai yang tingginya hampir melewati dada kami. Kami senang menyelam, karena saat menyelam kami bisa melihat berbagai macam kehidupan di bawah air sungai yang begitu beragam.

Kami terus mengoyangkan kaki kami, maju mundur sambil menyelam memperhatiakan sungai. Kami memang kecil, tapi kami cukup menjadi perenang yang handal.

Dan rasanya baru kemarin saja, aku menikmati riak air sungai yang begitu sejuk nan menyegarkan itu, rasanya setiap kali melihat air sungai yang bersih, aku selalu ingin terjun dan berenang di sana.

Namun sayangnya, riak air yang dulunya menyenangkan kini berubah menjadi riak air yang memiliki kegelisahan. Air jernih itu tak nampak lagi, bergantikan air berwarna merah, kuning layaknya minuman dalam kemasan yang sering kita temui, kejernihan air pun menghilang bergantikan aroma amoniak yang begitu menyengat, tak sedap dicium.

Untuk melihat ikan pun, aku kesulitan. Karena sampah-sampah yang berjejalan memenuhi permukaan sungai, hingga sulit sekali menemukan ikan yang berenang bebas, ada berbagai macam jenis hambatan yang membuat ikan kehilangan ruangan bergerak. ia mungkin akan mati karena kehabisan jeda untuk bernafas.

Andaikan sampah bisa kita daur ulang, mungkin ikan takan kesulitan sendirian. Rasanya hal itu sudah menjadi sebuah pemandangan yang tak asing, namun bukankah sampah itu tak bisa larut dengan sendiriannya, selama ribuan tahun ia akan terus berada di sana. berjejak. Plastik mungkin tak bisa berteman dengan alam.

Berawal dari keresahan ini, aku membuat karya ini, karya yang berjudul “apologize to nature“ sebuah karya yang mencerminkan kondisi sungai yang kerap kali kita temui saat ini. Sebuah sungai yang kehilangan ke asriannya. Sebuah sungai yang kehilangan kesejukannya, karena sampah yang dengan seenaknya kita buang ke sungai.

Tak hanya merusak permukaan air, air yang dialiri limbah pun memiliki zat-zat yang mampu menyakiti mahluk hidup. Bisa merusak kehidupan yang berada di dalamnya, bukankah sungai itu adalah sumber kehidupan , bukankah sungai merupakan habitat sang ikan-ikan. Rumah mereka.
Sampah plastik yang tak bisa diurai dengan cepat pun menimbulkan banyak sekali penumpukan yang bisa menghambat jalur air, hal ini bisa menyebabkan meluapnya air ke pemukiman warga, hingga menimbulkan bencana.

Jadi, bukankah sudah saatnya kita mulai memperhatikan sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan ini, tanpa air yang bersih kita tidak bisa membersihkan diri dan juga minum. Dan bukankah manusia membutuhkan alam untuk hidup, begitu pun alam membutuhkan manusia untuk merawatnya.

Dengan ini, aku ingin meminta maaf, pada alam yang sudah terlukai, semoga kau bisa lekas sembuh kembali.

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This