Antara Saya Dan Mahasiswa Universitas Bung Hatta

by | Sep 8, 2021 | Pojok

Ini bukan kisah tentang asmara, tetapi tentang rasa miris yang terus tersimpan. Saat masih kuliah di Jakarta dan liburan menemui orang tua serta adik-adik yang tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Pada saat hujan deras terus mengguyur, dan banjir merebak, banyak mahasiswa yang kost dan jauh dari orang tua, kedinginan dan kebingungan.

Pada saat itu, saya masih berstatus mahasiswa di kampus Universitas Trisakti, Jakarta. Kota Padang menjadi tempat berlibur yang rutin didatangi. Selain karena ada keluarga, memiliki pemandangan indah, makanan super lezat, teman-teman yang lucu, juga karena di sana ada perpustakaan kota yang isinya sangat lengkap. Banyak buku yang susah dicari bisa ditemukan di sana. Jika sempat ke Bukit Tinggi, lebih asyik lagi, bisa mendapatkan banyak buku langka, bagus, dan murah peninggalan para turis berstatus mahasiswa dan kaum intelektual dari manca negara.

Kedatangan saya waktu itu tidak sendiri, tetapi bersama beberapa orang kawan dari satu kampus. Bukan sekedar berlibur, tetapi juga karena ingin mencoba menyelam di laut lepas dan pulau-pulau sekitar yang masih “perawan” dan menantang. Hanya saja, saya tidak tinggal bersama mereka, mereka tinggal di salah satu rumah kawan, sedangkan saya bersama keluarga.

Hari itu, saya merasa sangat kesal karena dilarang pergi menyelam bersama kawan-kawan, padahal saya sudah bermimpi dan berangan-angan serta mempersiapkan diri. Untuk menghilangkan kekesalan, akhirnya saya memilih menepi sendirian berenang dan menikmati kopi di sebuah hotel di sana. Cuaca memang agak aneh hari itu, dan angin sangat kencang.

Selagi asyik duduk-duduk menjelang petang sambil baca dan ngopi, mata saya tertegun melihat ada perubahan mengerikan di laut. Air laut bergejolak dan meninggi, drastis. Muara yang juga nampak oleh saya, berubah menjadi gelap dan mengerikan. Hujan deras pun turun sederas-derasnya air.

Tiba-tiba kawan-kawan saya datang menjemput, satu rombongan sudah pulang. Mereka panik karena kawan-kawan di rombongan lain lenyap. GPS tidak berhasil menemukan koordinat, dan semua alat komunikasi mati. Astaghfirullah….

Kami pun bergegas pulang ke rumah keluarga saya. Eh, jalan ke rumah ternyata sudah digenangi air cukup tinggi. Hati saya sudah tidak nyaman. Meskipun kami bisa menerobos dan sampai dengan selamat karena memakai kendaraan yang memadai, saya tetap tidak enak hati. Bukan hanya soal kawan-kawan yang masih belum jelas di mana dan bagaimana, tetapi di jalan menuju rumah saya bisa melihat banyak mahasiswa dari kampus Universitas Bung Hatta yang meminta tolong karena kebanjiran

Untung papa saya sudah di rumah, dan begitu tiba, papa pun langsung meminta bantuan agar mahasiswa-mahasiswa yang butuh pertolongan segera dibawa masuk ke rumah. “Kasihan mereka! Bantu! Kasih makan dan baju kering! Banyak yang nggak punya uang mereka itu!”, teriak papa.

Kami tidak berpikir panjang bahkan jadi lupa dengan kawan-kawan yang masih hilang. Ada sekitar 15an mahasiswa yang kemudian “camping” di rumah karena mereka belum bisa kembali ke kos mereka. Baru setelah agak tenang, saya mengajak kawan-kawan ke tempat SAR dan mencari kawan-kawan kami yang masih hilang di laut.
Sungguh malam yang melelahkan namun benar, badai pasti berlalu. Esok paginya matahari terang dan banjir surut. Tim SAR berhasil menemukan kawan-kawan yang nyaris tenggelam dan terdampar di sebuah pulau. Mereka akhirnya selamat dan kembali berkumpul. Alhamdulillah….

Setelah waktu berlalu, saya kembali mengingat peristiwa hari itu. Rasanya miris sekali membandingkan saya dan kawan-kawan yang asyik berlibur dan menyelam, yang tentunya mengeluarkan dana tidak sedikit. Sementara ada kawan-kawan lain, sesama mahasiswa, untuk kost pun harus sewa satu kamar ramai-ramai. Kadang makan kadang tidak, sering kalang kabut bayar kos dan uang kuliah. Saat banjir, mereka bingung semua, hanya karena tidak punya uang.

Saya terdiam dan menangis sendiri saat teringat semua itu. Meskipun sudah lebih dari 30 tahun yang lalu, saya tidak akan lupa. Hari itu saya belajar untuk bersyukur dan berbagi. Antara saya dan mahasiswa Universitas Bung Hatta, saya merasa malu bila tidak mampu berbagi.

Bandung, 5 September 2021
Mariska Lubis, S.E. M.Int.S.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This