Amor Sive Amicitia?

by | Aug 29, 2021 | Cerpen

Baru kali ini, Elvana merasa hidupnya berbeda. Bukan karena tiba-tiba mendadak kaya raya melainkan karena dia menemukan cinta di persahabatannya. Elvana tidak pernah tahu kalau sebenarnya ini sedikit menyakitkan. Pernyataan yang sebenarnya adalah ketika Elvana ingin menjalin hubungan dengan sahabatnya namun sahabatnya menolak. Elvana kerap mencari tahu alasannya, namun nihil. Ia tak menemukan jawaban sama sekali.

“Samudra…,” panggil Elvana saat bertemu dengan sahabatnya di gerbang sekolah.

Samudra menoleh.

”Ada apa?”

Elvana ragu, namun ia sangat ingin pulang bersama dengan Samudra seperti dulu, sebelum mereka menjauh seperti sekarang.

”Apa aku boleh pulang bersamamu?”

Dada Elvana mendadak sesak, namun dia tetap bertahan. Sial penyakit ini kambuh lagi.

“Ya,” Jawabnya singkat.

Mata Elvana seketika berbinar, walaupun dadanya terasa sesak. Mereka berjalan bersama dari sekolah sampai ke rumah masing-masing. Kebetulan, rumah mereka berdekatan. Elvana yang dari tadi diam akhirnya membuka suara.

“Dra…kalau besok aku sudah tidak ada, apa yang akan kau lakukan?” Elvana hanya ingin mendengar jawaban itu. Dia akan tetap merahasiakan sakit yang ia derita.

Samudra menoleh, ”Tidak melakukan apa-apa,”

“Oh… baiklah,” Elvana mendadak murung.

“Memangnya kau mau pergi kemana?” Tanya Samudra.

Elvana tersenyum sendu.

”Pergi… ketempat yang sangat jauh,”

“Oh, bagus kalau begitu, agar kita tidak usah bertemu lagi. Agar kita tidak perlu canggung seperti ini, ”Samudra berkata seperti itu. Elvana mengangguk namun meneteskan air matanya. Sakit, sakit sekali.

Mereka tiba di depan rumah masing-masing, Elvana menatap sahabatnya untuk terakhir kalinya. Dia tersenyum, ”Terima kasih, karena sudah menjadi sahabatku untuk tujuh tahun ini. Aku akan selalu mengingatmu. Ngomong-ngomong Amor sive Amicitia? Hehe maaf tidak perlu di jawab…Selamat tinggal Samudra”. Elvana langsung masuk ke dalam rumahnya sedangkan Samudra masih tetap berada di depan rumahnya. Terdiam memikirkan perkataan Elvana.

Andai Elvana tahu, kalau sahabatnya itu juga menyukainya. Hanya saja Samudra tidak ingin menyakitinya.

Keesokan harinya, Samudra terbangun karena ketukan pintu kamarnya. Ibunya mengabari bahwa Elvana sudah tidak ada. Samudra kira Elvana sudah berangkat namun saat melihat keramaian di depan rumah Elvana, Samudra bertanya-tanya. Apa seluruh keluarganya mengantar Elvana ke bandara?

Mamanya menepuk pundak anaknya, ”Ayo mandi dan pakai baju hitam, Mama tunggu 15 menit”.

“Untuk apa? Untuk apa aku ikut mengantar Elvana ke bandara?”

Mamanya terkejut bukan main, jadi anaknya ini belum tahu kalau sahabatnya ini pergi selama-lamanya. Bukan ke luar kota atau negeri. Mamanya menghela nafas.

“Dra… Elvana sudah tidak ada… dia sudah meninggal tadi pagi… ayo, bersiaplah… dia akan dikuburkan sebentar lagi,”

Samudra melebarkan matanya.

”Mama bohong kan?”

“Mama tidak berbohong sayang, ayo… antar sahabatmu,” Kata Mama Samudra.

Dengan cepat, Samudra bersiap-siap. Kepalanya mendadak pening, memori bersama Elvana berputar di kepalanya. Sekarang ia sadar, ucapan Elvana kemarin. Samudra dengan cepat menyusul mamanya yang sudah di depan rumah. Dengan badan gemetar, dia memberanikan diri. Mamanya Elvana yang melihat Samudra langsung memeluknya. Samudra menangis, bohong kalau tidak. Lalu ia melihat wajah Elvana di dalam peti putih itu. Samudra menangis, rasanya sakit, hancur, pening menjadi satu. Padahal ia juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja ia lebih memilih menyembunyikannya.

Ia tidak tahu kalau mencintai sahabatnya terlalu menyakitkan. Menerima fakta kalau sahabatnya sudah pergi, ke tempat yang lebih jauh. Samudra menyesal karena tidak ada di waktu terakhir Elvana. Dia menyesal karena sudah memilih menjauhkan diri dari Elvana. Dia menyesal karena belum menjadi sahabat yang baik untuk Elvana. Tujuh tahun bersahabatan itu tidak sebentar.

Sekarang ia mengerti mengapa Elvana mengatakan Amor sive Amicitia. Yang artinya ‘Cinta atau persahabatan.’ Mana yang akan kau pilih? Apa kau yakin untuk memilih salah satu dari itu? Jika kau memilih cinta apa kau yakin bisa bersamanya sampai tua? Jika tidak… setelah itu pastinya kalian akan menjauh dan menyesal apa yang telah kalian lakukan. Jika persahabatan, apa kalian yakin bisa menjaga perasaan kalian agar tidak menyukai sahabat kalian sendiri? Susah? Ya. Berat? Ya.

Aku tahu banyak sekali hubungan yang berawal dari sahabat menjadi teman hidup tapi ternyata lebih banyak yang tidak berhasil, ujung-ujungnya mereka menjauh satu sama lain. Kau tahu terkadang dunia itu tidak adil. Di saat kau memintanya untuk tetap di sini tapi nyatanya dia pergi meninggalkan luka yang begitu dalam. Inilah yang dirasakan Samudra sekarang, sakit dan hancur. Elvana meninggalkan luka, begitu dalam.

“Terima kasih juga telah menjadi sahabatku selama tujuh tahun ini. Libet meum amo amici tui in sempiternum.”

(Aku memilih mencintai sahabatku, selamanya.)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This