Almari Cokelat Tua

by | Nov 4, 2021 | Cerpen

“Almari cokelat tua menyimpan memori lama yang menjadi bangkai beraroma bunga. Tulang rusuk sebelanga menyesakkan laci yang sudah berdecit rodanya. Cermin mini menganga merefleksi jiwa yang bergidik melihat sendirinya dengan raga yang tiada dan menembus segala.”

Sejak kecil aku selalu takut untuk membuka lemari tua milik Ibu. Memang itu buah warisan dari keluarga Ibu, kayunya tetap kokoh meski umurnya sudah bertahun-tahun. Untuk membukanya saja perlu tenaga yang amat besar. Maklum engselnya perlu diberi oli supaya lancar. Tapi, itu tidak pernah dilakukan. Biar terkesan tua katanya.

“Apa isinya?”, tanyaku kepada Ibu sambil menunjuk lemari tua.

“Hanya dokumen Ibu semasa kecil dan beberapa barang.”, jawabnya singkat. Aku yang masih kecil hanya mengangguk tunduk pada jawaban Ibu. Aku selalu takut dan bergidik setiap melihat lemari tua berwarna cokelat itu. Apa karena banyaknya tayangan horor di televisi ya? Setiap malam di 2006, karena tidak bisa tidur, aku selalu menonton tayangan Dunia Lain. Meski tahu itu hanya akal-akalan, tapi kesannya tetap menakutkan. Lima tahun umurku saat itu.

Merunut ceritanya, lemari tua itu milik nenek. Biasa digunakan untuk menyimpan piring dan perkakas dapur lain. Tingginya sekitar dua meter. Ah, tidak, mungkin tiga meter. Terdapat pintu atas dan pintu bawah. Di dalam pintu atas terdapat laci kecil untuk menyimpan barang mungil. Mungkin digunakan nenek untuk menyimpan sendok atau bumbu dapur. Banyak stiker tertempel di pintu lemari. Tak sedikit stiker tentang gelaran seni kampus bahkan tiket yang ditempel rapi. Apa Ibu yang menempel stikernya? Entah. Aku belum sempat bertanya. Kalau di bagian bawah lemari terdapat dua sekat yang membaginya. Atas dan bawah. Cukup untuk menyimpan barang sebesar dua helm masing-masing bagiannya.

Kini lemari itu berdiri di teras atas rumah. Terdampar bersama dengan tumpukan barang-barang bekas. Debu menyelimuti. Jaring laba-laba pun melengkapi. Sepeda putih milikku yang bocor ban belakangnya juga tersimpan rapi di sebelah kanan lemari itu. Dokumen milik Ibu yang lama disimpan di dalamnya sudah dipindah ke lemari yang lebih bagus di kamar. Sekarang lemari tua itu sudah diisi lagi. Mungkin dengan barang bekas lainnya. Aku tidak tahu pastinya.

Pernah suatu saat aku diminta untuk membuka lemari cokelat tua itu. Tapi aku tidak berani. Masih tidak berani. Cukup membuat aku selalu bergidik untuk membayangkan apa isinya. Padahal sudah tahu bahwa isinya hanya barang-barang bekas. Meski hanya tahu dari perkataan Bapak saja dan tidak pernah melihatnya secara langsung. Sampai saat, Ibu memintaku untuk mengambil barang di lemari itu.

Bisa tolong bukakan lemari itu Brin? Pintaku kepada adikku. “Kenapa tidak buka sendiri saja?”, jawabnya. “Sudahlah tolong bantu bukakan, aku mau ke bawah. Oya, kata Ibu tolong ambil tupperware kotak yang warna biru muda.”, balasku melengos dari tanggung jawab. Akhirnya Dabrin yang membuka lemari itu. Beranjak dari kasur biru tua di kamar sebelah selatan, Dabrin menuju teras. Masih sore, seperti biasa daun bambu berserakan di teras atas. Wajar saja di depan rumah banyak pohon bambu berjajar. Sungai ada di baliknya. Cukup untuk membuat tenang pikiran ketika sedang buntu saja.

“Cuma ambil begitu saja kok repot?”, kata Dabrin sambil mengambil barang yang diminta Ibu dan membawanya ke lantai bawah. Rumah kami dua lantai. Tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil pula. Cukup sederhana dengan satu garasi yang muat untuk satu sepeda motor dan satu mobil. Setelah menuruni anak tangga langsung bertemu dengan dapur. Di sebelah barat tangga terdapat kamar mandi. Sedang di utara langsung berhadapan dengan pintu depan rumah. Di timur ada sofa hijau tua dan bufet dengan televisi di atasnya. Tempat biasa untuk berkumpul. Di selatan sofa terdapat meja makan sederhana yang hanya cukup menampung dua orang. Biasanya tempat Bapak dan Ibu untuk makan, sedang kami anak-anaknya makan di sofa atau ruang tamu. Oya, ruang tamu ada di sebelah utara sofa. Kadang juga bergantian tempat makannya yang penting nyaman saja.

Dabrin meletakkan tupperware kotak di atas meja dapur. Sedang aku mencoba sibuk dengan melihat lini masa media sosial. Seakan selamat dari bencana aku bersyukur tidak berhadapan dengan lemari cokelat tua itu. Merinding gila rasanya. Mencoba mengalihkan bulu kuduk yang berdiri aku membuka Youtube dan menyetel Oasis. Ya memang musik Rock cukup untuk mengalihkan perhatianku.

“Kenapa tadi kakak tidak mau ambil sendiri saja barang milik Ibu di lemari itu?”, tanya Dabrin kesal. “Kan bisa ambil sendiri, tinggal buka, set, ambil barangnya, set, tutup lagi. Selesai urusan.”

Sial, mau melengos apa lagi aku ini? Mau berkata takut dengan lemari cokelat tua itu, bisa dibilang tidak masuk akal juga. Oya. Begini saja. “Ya karena aku punya otoritas sebagai anak tertua. Jadi, kuberikan amanat Ibu kepadamu saja.”, Aku mencoba mengelak.

“O. Begitu. Jadi hanya yang tua yang bisa punya otoritas? Hati-hati lho Kak, jangan-jangan kalau Kakak jadi pejabat, semua harus tunduk sama Kakak, soalnya Kakak adalah orang tertua dan memiliki otoritas tinggi untuk menjegal orang atau kabur dari tanggung jawab dengan gaya. Wah bahaya.” Dabrin cekikikan.

“Apaan? Untuk apa juga jadi pejabat? Mau aku jegal beneran?”

“Tuh kan. Tuh kan. Memang bahaya.” Dabrin tertawa.

Ibu yang mendengar percakapan kami hanya tersenyum dan sibuk memasak rawon dengan lincah untuk nanti makan malam. Bapak belum pulang. Memang masih pukul empat sore. Biasanya satu jam lagi sudah di rumah. Kalau ada rapat kerja bisa sampai magrib.

Malam sudah kunjung. Bapak juga sudah di rumah. Waktunya makan malam. Rawon panas, tempe goreng yang baru diangkat dari wajan, sambal pelengkap, bawang goreng, dan kerupuk yang selalu ada, tidak lupa nasi yang cukup untuk mengenyangkan. Makan malam keluarga ditemani televisi yang menyala menampilkan cuplikan gol tim sepak bola favorit Bapak. Memang baru saja menang lima gol tanpa balas dari Emyu. Tidak lengkap rasanya jika tidak ditonton lagi menurut Bapak. Ya tidak masalah karena aku juga penikmat liga Inggris. Meski tidak ada tim yang benar-benar aku sukai, tapi suka saja melihat adu taktik dari dua tim yang bertanding.

Pukul sepuluh. Setelah suntuk makan dan kumpul keluarga di ruang bawah, kini para insan kembali kepada dunianya masing-masing. Bapak masih setia dengan televisinya karena ada acara favoritnya. Ibu sudah beristirahat di kamar. Dabrin sudah sibuk dengan tugas gambarnya. Dan aku yang sibuk membaca Haruki Murakami. Kalau sudah larut dalam ceritanya, bisa-bisa terbawa ke dalam mimpi. Terkadang juga diselingi dengan kumpulan cerita pendek milik Cak Nun atau membaca sajak yang termuat di Jawa Pos lewat laman daring.

Pukul dua belas. Hari sudah berhenti berputar dan berganti gigi memulai hitungan baru. Aku tertidur.

Di malam itu aku masih ingat rasanya. Jiwaku lepas dari tubuhku. Seakan sadar bahwa aku ada di alam mimpi. Bukan, aku memang sadar bahwa ini adalah mimpi. Rasanya seperti dalam ruangan yang begitu gelap. Tidak dapat menggapai apa-apa. Badan terasa ringan seperti kapas yang tertiup angin. Mungkin sebentuk roh? Entah. Rasanya seperti melayang.

Kemudian muncul kamar dalam kegelapan secara tiba-tiba. Tidak asing. Bukannya ini kamarku? Aku pun memasuki kamar itu. Tetap gelap. Melayang perlahan diriku. Dan menemukan cermin yang biasa menggantung di kamarku. Bergidik. Merinding. Melihat sosokku sendiri di depan cermin mini yang ada di kamar. Bentuk tubuhku tidak tampak sama sekali. Berbentuk orb? Mirip seperti itu. Menebarkan cahaya putih yang berpendar seperti kabut. Terpakulah diriku menghadap refleksi itu.

Kengerian tidak berhenti di situ. Lemari tua yang aku takut untuk kubuka sendiri tiba-tiba hadir di belakangku. Pintu lemarinya terbuka. Menghadirkan hawa dingin. Aroma macam bunga semerbak memenuhi kamarku yang gelap. Kemudian terdengar suara, “Yang berlalu akan berlalu, yang akan datang pasti datang pula. Percaya saja pada apa yang sudah dilalui. Jejakmulah yang akan menjadi sejarah. Dan dengan tapak itulah kamu menjadi. Tidak perlu takut.”

Begitu muncul kata-kata yang masuk ke dalam otakku. Merinding gila. Hingga aku terbangun dari tidurku dengan kaku. Sensasi yang membuat bulu kudukku berdiri setiap mengingatnya. Tapi, kata-kata itu seakan memberikan hidayah kepadaku. Tidak segan untuk aku tulis kembali pada notes biru kecil milikku. Bisa-bisa menjadi bahan tulisanku selanjutnya. Pikirku.

3 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This