Aku Pasti (Berharap) Bisa

by | Sep 4, 2021 | Essai

Terus saja menulis, terus saja menulis, terus saja menulis, tulis apa saja. Tulislah sesuatu tujuh kali dalam seminggu itulah goresan tangan Teh Mariska di WAG memberikan semangat kepadaku dan kepada semua yang lain, agar mampu mengolah asah yang ada dalam kalbu.

Kata-kata Teh Mariska terus ada dalam pikiranku. Tiap langkah, gerak dan alunan nafasku terus terbayang kalimat terus saja menulis, terus saja menulis, terus saja menulis, tulis apa saja, tulis apa saja seakan menjadi dzikir dan wirid baruku.

Demikian malam dan sampai pagi ini, aku sudah tidak sabar untuk memulainya, tak biasa dalam shalat malamku, aku berdoa kepada Tuhan: “Ya Alloh berikan kemampuan tanganku untuk bergerak merangkai kata, menyusun kalimat untuk sebuah karya. Berikan HikmahMu agar aku mampu mengelola akal pikiran melalui tanganku yang bisa bermanfaat bagi sesama. Berikan hidayahMU, berikan KekuatanMu, laa Haula wa laa quwwata Illah billah, kabukanlah doaku Yaa Alloh”. Itu doa malam yang khusyuk meminta kepada Alloh agar aku bisa menulis.

Pagi ini, aku sengaja menyendiri di belakang rumah, aku lihat di ufuk timur matahari masih tidur dipelukan awan, hanya semburat putih malu malu menampakkan diri. Mataku tertuju pada beberapa kerbau yang sedang merumput di atas lahan kosong dan anaknya . Sang induk dengan cekatan memakan rumput liar. Anak kerbau rupanya masih beberapa jam menghirup udara dunia sehingga masih tertatih-tatih jalannya. Kadang kakinya terperosok ke lubang kecil sehingga tubuh yang masih ringkih itu jatuh, Ia berusaha bangun dan menapakkan kedua kaki depannya untuk berdiri. Sang Induk berusaha mendekati dengan menjulurkan lidah dan mengusap buluh buluh halus pada kerbau kecil.

Sang induk seakan memberikan isyarat dan berkata teruslah berusaha anakku, kau pasti bisa, gerakkan terus kakimu, semangat nak, ibumu terus berdoa agar kau mampu berdiri. Ayo gerakkan terus, gerakkan terus, berusaha dan berusaha, jangan putus asa, kau pasti bisa. Kerbau kecil terus berusaha berdiri, menggoyang-goyangkan badannya, mengangkat kepala, dan…kerbau kecil bisa berdiri. Walau kadang masing sempoyongan.

Hatiku tergugah, pikiranku jauh melayang, otakku terus berputar, aku cuma bisa geleng-geleng kepala menyaksikan kerbau kecil bisa berdiri melalui proses yang luar biasa. Susah tapi berhasil, memerlukan semangat yang luar biasa dan sukses.

Kembali kenangan masa lalu berjalan di depanku seakan mengejek kepadaku yang tidak berani menulis. Bukankah kamu sudah ikut pelatihan menulis, bahkan tidak sekali tapi banyak kali, bukankah sebagian tulisanmu sudah pernah dimuat di koran, bahkan sekarang engkau juga sedang mengikuti pelatihan membuat Kisah-kisah bernuansa Islam untuk guru. Kau sudah dibimbing Teh Mariska, didorong diberi semangat, lalu apalagi yang kamu butuhkan. Kamu hanya takut, kamu takut tulisanmu tidak bagus, kamu takut tulisanmu tidak dianggap orang, kamu takut tulisanmu tidak dimuat, kamu takut ini, takut itu, takut begini, takut begitu, nanti begini, nanti begitu. Kebanyakan mikir, mulai dan mulai, tulis dan menulis, “ngapain” pikir panjang.

Suara hati itu begitu kuat, aku terbakar, semangatku kembali tumbuh, aku harus memulai, aku akan berusaha dan aku akan bisa.

“Ayah..!” anakku yang bontot memanggil.

Aku tersadar bahwa aku sedang melamun sesuatu yang mungkin akan menjadi kenyataan. Wajahku mulai panas tersengat sinat matahari, yang sudah mulai memanas. Ternyata dua jam berlalu aku berada di belakang rumah, menggerakkan tangan dan asah, semoga tulisan ini bermanfaat dan berkah bagi saya dan semuanya.

Malang, 16 Agustus 2021
Machmud Soleha

Baca Juga

1 Comment

  1. Hasan Ridwan

    Mantap Pak Ustadz Machmud Soleha. Terima kasih inspirasinya

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This