120 Tahun Bung Hatta : Koperasi Menjadi Pilar Ekonomi Bangsa

by | Aug 14, 2022 | Warta Berita

Red

Muhammad Hatta sebagai intelektual dan Bapak Koperasi Indonesia yang merumuskan gagasan pokok ekonomi kerakyatan, patut diteladani. Gagasan yang dicetuskan sangat relevan dan kontekstual dengan kondisi kekinian masyarakat Indonesia di masa mendatang.

Konsep ekonomi kerakyatan yang dimanifestasikan melalui koperasi telah terbukti mampu menjadi pilar ekonomi bangsa karena bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya berdasarkan prinsip-prinsip gotong royong dan kekeluargaan.

“Koperasi juga menjadi cerminan dan ideologi falsafah Pancasila yang bertujuan memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Dituangkan dalam Pasal 33 ayat 1 UUD 1945,” jelas Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Indonesia, Muhadjir Effendi, yang menjadi pembicara dalam acara peluncuran buku Bung Hatta Jilid 8 oleh LP3ES yang berjudul “Ilmu Ekonomi, Dunia Usaha dan Perkembangan Masyarakat” di Jakarta, Jumat (12/8).

Acara peluncuran buku itu bersamaan dengan ulang tahun LP3ES ke-52 juga Peringatan 120 Tahun Bung Hatta. Acara ini dihadiri oleh Prof Dr. Emil Salim (Ketua Dewan Redaksi Karya Lengkap Bung Hatta), Dr. A. Prasetyantoko (Rektor UNIKA Atma Jaya), Ismid Hadad (Ketua Pengurus Bineksos/Pendiri LP3ES), dan Prof Dr. Didik J Rachbini (Ketua Dewan Pengurus LP3ES).

Menko PMK Indonesia menyebutkan bahwa dalam iklim neoliberalisme kapitalistik saat ini koperasi memang menghadapi tantangan yang sangat berat. Tidak saja dalam konsep dan filosofinya yang banyak kurang dipahami oleh generasi muda, namun juga dalam implementasi koperasi. Oleh karena itu, harus ditanamkan kembali nilai dan pentingnya koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sekaligus memperkuat perekonomian bangsa.

“Koperasi dengan demikian harus mampu beradaptasi dengan sistem ekonomi liberal kapitalistik yang semakin menguat,” ujar Muhadjir. “Kemenko PMK telah menginisiasi aksi nyata “Gerakan Ayo Berkoperasi” agar anggota koperasi lebih berintegritas, punya etos kerja tinggi, dan mempunyai jiwa kebersamaan dan gotong royong. Inisiasi ini didukung oleh Kemenko Perekonomian, Kemen UKM dan BPIP,” lanjutnya.

Muhadjir menjelaskan “Gerakan Ayo Berkoperasi” ditujukan untuk mendaratkan kembali konsep ekonomi kerakyatan terutama koperasi kepada generasi muda. Mulai usia SD sampai universitas diupayakan untuk mempraktikkan konsep tersebut. Harapannya adalah koperasi tidak hanya dipahami sebagai konsep tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selaras dengan penjelasan Muhadjir tentang implementasi konsep ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, Ismi Hadad, Pendiri LP3ES, menyebutkan bahwa relevansi dari membaca dan memperhatikan buku-buku Bung Hatta di era revolusi 4.0 saat ini adalah pentingnya penggunaan teknologi big data, internet of things, artificial intellegence, dan lain-lain. Bung Hatta telah mengulas bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan adalah faktor produksi yang netral. Bisa digunakan oleh siapa pun dan untuk kepentingan apa pun.

“Dia (buku Bung Hatta Jilid 8) bisa digunakan sebagai instrumen cara pendekatan dalam mencari kebenaran dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Di zaman modern ini pun bisa saja kita mengadopsi skenario teknologi digital, big data dan sebagainya dengan catatan harus berorientasi pada upaya untuk memecahkan persoalan ekonomi, sosial dan budaya bangsa,” jelas Ismi Hadad.

Bung Hatta adalah sosok intelektual yang tidak duduk saja di belakang meja, berlindung dengan konsep dan teori. Beliau adalah sosok intelektual yang terlibat dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seorang intelektual organik tapi bukan tradisional.

Tony Prasentyantoko, Rektor UNIKA Atma Jaya, menyebutkan bahwa Bung Hatta sama sekali tidak terkooptasi dengan pemikiran barat meskipun sempat mengenyam pendidikan tinggi di barat. Justru yang dilakukan adalah melakukan kontekstualisasi dan menerapkan kerangka pemikiran barat dalam konteks persoalan domestik Indonesia pada waktu itu. Bung Hatta tidak berusaha menjelaskan teori dan konsep barat yang tidak berbasis pada realitas domestik.

“Buku ‘Ilmu Ekonomi, Dunia Usaha dan Perkembangan Masyarakat’ ini jika dibaca dalam konteks perkembangan ilmu ekonomi hari ini sepertinya akan tidak berbunyi apa-apa. Karena hari ini ilmu ekonomi adalah ilmu yang sangat teknokratik. Harus selalu menggunakan ilmu ekonometri, ekuasi matematika, dan terkesan mencoba melepaskan diri dari ilmu sosial. Lebih ingin diakui sebagai ilmu teknokratik yang penuh dengan rumus perhitungan matematika dan sebagainya,” papar Rektor UNIKA Atma Jaya.

Ia melanjutkan bahwa pemikiran Bung Hatta pada buku ini justru mengingatkan kembali bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu sosial. Bung Hatta ingin mengajak kembali pada kesadaran bahwa ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial.

Menurut Ismi Hadad, penerbitan buku ini adalah tepat waktu di mana kita sedang mendefinisikan ilmu ekonomi di tengah perubahan situasi yang terus terjadi. Aspek teknologi menjadi begitu dominan dalam disrupsi industri pasca pandemi. Semakin dipercaya bahwa teknologi adalah faktor produksi dalam ekonomi. Sama seperti modal dan human capital, natural resources, sehingga amat dibutuhkan kebijakan dalam mengelola faktor-faktor ekonomi itu untuk kemanfaatan bersama.

Didik J Rachbini, Ketua Dewan Pengurus LP3ES, mengatakan bahwa pada bulan Agustus ini LP3ES sudah berusia lebih dari setengah abad. Pada peringatan 52 Tahun LP3ES dan 120 Tahun Bung Hatta, LP3ES menerbitkan tulisan Bung Hatta tentang ekonomi.

“Saat ini paling tidak ada 30-60 negara didera oleh inflasi. Harga-harga naik dan golongan bawah tidak bisa mencapai kesejahteraan seperti yang dilakukan sebelumnya. Akan bertambah miskin secara relatif dibandingkan waktu sebelumnya dari kenaikan harga pangan, BBM dan lain-lain,” ungkap Didik.

Di Indonesia sendiri ada dua wajah yang bercampur. Kita menerima rezeki dari kenaikan harga sawit, karet dan batu bara dunia yang meningkat sehingga Kemenekeu/APBN berlimpah dana. “Tetapi, pada saat yang sama harga pertalite telah mencapai Rp 17-20 ribu per liter. Harga pertalite domestik dijual separuhnya, yang berarti anggaran APBN, Pajak dan PNBP dianbil oleh mereka yang punya mobil. Tetapi jika harga pertalite dinaikkan maka harga-harga akan beranjak naik. Ada dilema yang dihadapi pemerintah sekarang,” jelasnya.

Didik menambahkan jika subsidi Rp 500 triliun digunakan untuk membangun rumah rakyat, sekolah dan lain-lain akan bermanfaat banyak. Ironisnya yang menikmati subsidi itu juga para orang kaya. Penghematan harus dilakukan rakyat, meski kondisinya tidak seperti Pakistan dan Sri Lanka yang rusuh.

“Kondisi Indonesia kini relatif lebih baik, tapi tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Jika kebijakan masa sulit ini bisa dilakukan dengan baik maka masa sulit terlewati. Sebaliknya, jika kebijakan yang dilakukan sembrono, APBN dibiarkan jebol maka ekonomi Indonesia akan menghadapi masalah,” pungkas Didik.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This